Kearifan Segenggam Garam
Sumber gambar: https://tiaramanik.files.wordpress.com/2012/06/630olenkapriyadarsani-linow1-jpg_094628.jpg
Dahulu kala, hiduplah seorang lelaki tua yang terkenal saleh dan bijak. Di suatu pagi yang basah, dengan langkah lunglai dan rambut kusut, datanglah seorang lelaki muda, yang tengah dirundung masalah. Lelaki itu tampak seperti orang yang tak mengenal bahagia. tanpa membuang waktu, dia ungkapkan semua resahnya: impiannya gagal, karier, cinta, dan hidupnya tak pernah berakhir bahagia. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan teliti dan saksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Dia taburkan garam itu ke dalam gelas, lalu ia aduk dengan sendok, tenang, bibirnya selalu menampilkan senyum.
“Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?” pinta Pak Tua itu.
“Asin dan pahit, pahit sekali,” jawab sang tamu, sambil meludah ke tanah.
Pak Tua itu hanya tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya.
Kedua orang itu berjalan beriringan, tapi dalam kediaman. Akhirnya sampailah mereka ke tepi suatu telaga yang tenang. Pak Tua itu, masih dengan mata yang memandang lelaki muda itu dengan cinta, lalu menaburkan segenggam garam tadi ke dalam telaga. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga, yang membuat gelombang dan riak kecil. Setelah air telaga tenang, dia pun berkata, “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah.”
Saat tamu itu selesai meneguk air telaga, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”
“Segar,” sahut tamunya.
“Apakah kamu masih merasakan garam di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi.
“Tidak,” jawab si anak muda.
Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajak duduk berhadapan, bersimpuh di tepi telaga. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan seumpama segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki. Kepahitan itu anakku, selalu berasal dari bagaimana cara kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan: lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskanlah wadah pergaulanmu supaya kamu mempunyai pandangan hidup yang luas. Kamu akan banyak belajar dari keleluasaan itu.”
Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasihat. “Hatimu anakku, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Sumber: Anwar, Zainul. Tahun 2012. A-Z Psikologi. Yogyakarta: Penerbit Andi
