Sumber : ewaldoreisamaral.wordpress.com
Aku sering
menjadi tempat curhat para gadis remaja, dari mulai curhat masalah cita-cita,
cinta, bahkan sampai ada yang mepet-mepet ke masalah pribadi, yang terkadang
bikin air mata ini tumpah karena saking sedihnya denger cerita itu.
Yang buat aku aneh, kenapa yang
paling banyak dicurhatin itu masalah cinta, kadang aku dibuat bingung ketika
ada yang bertanya,
“Gimana caranya buat ngelupain dia.”
Aku tanya balik,
“Kalau menurut kamu hal yang paling
baik yang mesti dilakuin apa?”
Rata-rata
orang itu akan jawab,
“Pengennya sih, ngelupainnya.”
Kalimat yang diakhiri dengan “Sih,”
adalah tanda keraguan. Ini orang pengen ngelupain tapi sebenernya ngerasa rugi.
Makanya sebelum aku kasih petunjuk aku lebih seneng nanya balik.
Tapi
rata-rata, orang yang diajak curhat kalau ada orang yang nanya bukan ngasih
petunjuk, malah ngasih jawaban.
“Ya, caranya ngelupain dia ya kamu
enggak usah hubungin dia, ya anggap aja enggak pernah kenal sama dia. Maka udah
deh, lama-lama juga kamu bakal lupa sama dia.”
Aku terkadang miris dengan orang
yang dengan mudahnya kasih jawaban ke orang lain, seolah yang punya masalah
dia. Padahal, sebenernya ketika kita ditimpa masalah, kita ini sudah tahu harus
ngapain, mungkin karena terlalu banyak bilang “Sih” disanalah keraguan kita
yang bikin kita enggak berani ngambil tindakan tegas.
Sumber : bangsaid.com
Karena
tugas orang yang jadi tempat curhat bukan untuk menyelesaikan masalah, karena
sampai kapanpun setiap orang akan punya masalah. Jadi lebih tepatnya, jadilah
petunjuk arah yang baik bagi mereka yang ragu. Terkadang bukan jawaban yang
mereka inginkan tapi keyakinan untuk memberanikan mereka untuk bertindak.
*Juliyanto

