Sumber : Foto buku diaryku.
Aku adalah salah
satu anak yang tidak begitu suka dengan aktivitas menulis, ini karena sewaktu
SD Ayahku selalu bilang.
“Tulisan
kamu jelek, Boy. Mau jadi apa nanti kalau tulisan kamu enggak kebaca gitu?”
Sindir Ayahku.
Memang
begitulah sifat Ayahku, selalu menggunakan cara-cara yang tidak biasa dalam
mendidik anaknya, bahkan terkadang sindirannya pun menjadi cara bagi Ayahku
mendidik anak-anaknya. Walau begitu tetap saja tidak ada yang berubah sama
sekali, tulisanku tetap saja begitu.
Tetapi
entah kenapa, dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah bisa menjauh dari
aktivitas menulis ini. Mungkin karena sebagai manusia kita memang tidak akan
pernah bisa menjauh dari yang namanya tulis-menulis, tapi aneh.
Dulu
ketika waktu kelas empat SD guruku pernah bilang, “Kerjakan soal yang mudah
dulu, kemudian soal yang sulit.”
Entah
kenapa yang aku lakukan bukanlah memaknai perkataan tersebut, tetapi malah aku
mencatat kata-kata itu disebuah buku.
Ini
berlanjut hingga sekarang, entah berapa banyak kata-kata yang pernah aku catat.
Dari mulai perkataan guru SD, SMP, SMK, bahkan celotehan temanku yang tidak
begitu penting pun pernah aku catat.
Seperti
:
“Dalam
bekerja itu jangan cari musuh, bekerjalah sebaik-baiknya, jadi orang baik
jangan cari masalah.”
“Jul,
kamu masih sangat muda sekali, jangan mudah menyerah ya, semuanya pasti ada
cobaannya.”
“Suatu
saat nanti, akan ada yang berdiri disini menggantikan bapak.”
“Sepuluh
tahun lagi kamu akan menjadi apa. Kalau nanya soal yang enggak kamu ngerti aja
kamu malu-malu.”
“Lelaki
mah, emang harus lebih baik pendidikannya dari perempuan.”
“Hidup
itu terkadang harus melawan arus.”
“Kalau
kamu mau belajar pasti bisa, Bapak yakin.”
“Sekali
melangkah pantang menyerah, sekali maju nomor satu.”
“Sebentar
lagi ujian nasional, tetapi ujian sebenarnya setelah ujian nasional ini
selesai.”
“Hadapi,
hayati, nikmati.”
“Cowok
mah emang gitu ya, enggak terlalu suka jajan, tapi aku salut kamu bisa berhenti
merokok.”
“Kamu
itu unik beda sama cowok lain.”
Dari
yang agak penting sampai yang enggak penting-penting amat pernah menjadi bagian
dari kalimat dalam buku catatanku, bahkan temanku pun sempat sampai
terheran-heran ketika melihat hasil tugas merangkum sebuah pelajaran waktu
sekolah dulu.
“Ini
ngerangkum apa nyalin, Jul? Kok, panjang-panjang.”
Ya
begitulah aku, awal dari sebuah kisah dimana dulu aku yang tidak begitu suka menulis
jadi mulai menyukainya. Menurutku menulis itu seperti menumpahkan imajinasi,
gagasan, mimpi, cita-cita, perasaan, kekesalan, pemikiran. Semuanya biasa aku
tulis. Dari pada berkoar-koar enggak jelas, marah-marah kaya orang gila,
teriak-teriak di kamar. Kan, enggak penting banget. Mending menulis.
Bahkan
pernah aku baca sebuah buku tentang “bagaimana caranya belajar dan menjadi
mahasiswa cerdas” disana diterangkan bahwa cara memahami sebuah ilmu adalah
dengan melakukan kegiatan ini : Membaca, menulis ulang, menerangkannya pada
orang lain, menerapkannya, mengubahnya menjadi pertanyaan, dan menjawab soal. Nah
disana aku baru mengerti bahwa ternyata menulis itu begitu penting. Karena dalam
waktu beberapa jam saja setelah tertidur, kita akan benar-benar kehilangan
sebagian memori, atas apa yang pernah kita lakukan kemarin, misalkan kita ingin
mengingat kembali apa yang kita lakukan ketika jam sepuluh pagi, tiga minggu
yang lalu, jelas kita bakal lupa kalau tidak mencatatnya berbeda kalau kita
pernah mencatatnya. Setidaknya kita bisa buka lagi halaman buku harian kita,
melihat apa sih yang pernah dilakukan pada saat jam sepuluh pagi, tiga minggu
yang lalu. Dan disana otak kita akan bekerja merekonstruksi ingatan yang pernah
disimpan.
Itulah
mengapa menulis begitu penting sampai sekarang, dan tidak pernah tergantikan. Bahkan
kalau dihubungkan dengan kemajuan teknologi, tulis-menulis sudah menjadi bagian
darinya. Seperti contoh mudahnya kemajuan teknologi dari media sosial. Facebook,
Twitter, Blogger, Blackberry Messenger. Ternyata hampir semua media sosial
bagian utamanya adalah tulisan.
Yap,
benar-benar ajaibkan, aktivitas menulis itu. Bahkan sampai sekarang pun tanpa
disadari menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan.
O,
ya, terima kasih juga kepada Ayahku, yang selalu bilang,
“Tulisanmu
jelek, Boy!”
Itulah
yang malah membuat aku menjadi semangat dan mengebu-gebu untuk belajar
mengetik. Kalau saja sudah banyak orang yang menyadari bahwa kalau tidak bisa
menulis bagus, belajarlah mengetik di komputer niscahya tulisanmu akan indah
ketika di print out, hahahahaha.
*Juliyanto

