.

Minat atau Bakat.

Sumber : static.republika.co.id

Guru SMP ku dulu, selalu bilang. “Belajar matematika itu seperti naik tangga, kamu tidak akan bisa sampai ke puncak tangga tanpa naik satu per satu anak tangga. Itulah sebabnya belajar matematika begitu sulit di materi selanjutnya, jika dasarnya saja belum mengerti.” Benar, saat pelajaran aljabar, aku adalah salah satu murid yang selalu diam, aku tidak mengerti apa yang guru matematikaku sampaikan. Padahal teman-temanku yang lain selalu silih berganti maju kedepan mengisi soal yang diajukan guruku itu, hanya aku saja yang tidak begitu mengerti matematika, alasannya sih sederhana. Aku tidak begitu berminat kepada matematika.

            Pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia beragam, dengan berbagai kompetensi keahlian yang sangat menakjubkan, Tuhan yang Maha Sempurna tidak akan menciptakan sesuatu yang tidak ada gunanya. Tentu setiap orang sebenarnya berharga jika mereka tahu.
            Lalu apakah setiap orang terlahir langsung berbakat? Hm, sepertinya tidak mungkin. Apakah sudah ada bayi yang baru lahir langsung sudah bisa berjalan, bicara, pidato, bermain musik. Sepertinya mustahil ya? Kecuali Nabi Isa A.S atas izin Allah, ketika lahir langsung bisa berbicara, berdakwah tentu ini mukjizat. Bukan bakat.
Apa sih sebenarnya yang disebut bakat, sebenarnya bakat itu mirip dengan kecerdasan. Seseorang akan dinilai berbakat ketika mampu belajar sesuatu hal dengan kecepatan yang luar biasa. Misalnya, ada seorang pemusik hebat mengajari anaknya yang masih berumur 3 tahun tidak disangka-sangka bahwa anaknya yang berumur 3 tahun ini dengan cepat menguasai permainan piano yang begitu rumit dan sulit hanya dalam waktu satu bulan, belum lagi anak ini tidak pernah diajari secara intensif hanya melihat saja dan diajari dasar-dasarnya saja oleh Ayahnya. Maka bisa disimpulkan kalau anak ini berbakat dalam bermain piano.

Sumber : forumrohissekadau.blogspot.com

Tetapi terkadang kita bingung juga yah, dan selalu nanya ke diri sendiri. “Bakat aku tuh apa sih? Kok, aku ini enggak bisa, itu enggak bisa. Mau jadi apa aku dimasa depan nanti, kalau apa-apa aku enggak bisa.”
Dulu juga aku pernah ngerasain hal yang sama, enggak tau bakatnya apa. Enggak punya minat apa-apa, hidup dalam khayalan aja, kalau ditanya orang.
“Udah lulus mau kemana, mau ngapain”
Dengan entengnya aku malah menjawab, “Teuing atuh, enggak tau, bingung ey.”
Ternyata setelah lama introspeksi diri masalahnya sederhana banget, udah mah enggak punya bakat, enggak punya minat juga kemana-mana. Bisanya cuma nanya ke orang tua, ke orang lain.
“Mah, aku lulus enaknya lanjut kemana ya? SMK atau SMA.”
“Mah, aku lulus enaknya kemana ya Kuliah atau Kerja.”
“Mah, aku kuliah enaknya jurusan apa ya?”
“Bro, aku bingung solusinya?”
            Ya, begitulah. Memang enggak salah juga nanya. Itu ada baiknya karena enggak selamanya kita itu tahu mana yang baik, dan mana yang enggak. Tetapi kalau udah masalah minat dan bakat nanyanya bukan ke orang lain lagi, tetapi ke diri kita sendiri.
           
            Lalu apakah minat itu, minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Apa sih gunanya minat? Kenapa kita harus memiliki minat? Kenapa?
Inilah yang sebenarnya penting sebelum kita memiliki bakat kita harus memiliki minat dulu. Karena urutan tangga untuk bisa berbakat harus melalui minat dulu, belajar dengan giat, tahu caranya, baru bisa berbakat. Kita kadang enteng terus berasumsi bahwa bakat didapat tanpa belajar, mustahil! Semua orang yang berbakat juga sama kaya kita prosesnya, ya belajar dulu. Cuma karena kecerdasannya cocok dengan apa yang dipelajarinya makanya dengan cepat ia berbakat dalam hal yang ia pelajari.

            “Terus kalau kita minat dalam sesuatu tapi males belajar solusinya gimana?”
            Kalau kita berminat sudah pasti rasa malasnya akan hilang, kalau masih ada berarti bukan minat, cuma keinginan sementara yang terlalu dipaksakan. Karena ciri-ciri kita minat akan selalu membuat kita rajin, bahkan ketika kita meminati hal yang sepele seperti, main game online. Secara tidak sadar, alam bawah sadari kita membimbing kita untuk terus bermain game online, dari mulai begadang, bangun pagi, sampai enggak makan seharian cuma buat main game online tersebut. Segalanya pasti dibela mati-matian kalau minatnya udah kuat.

Sumber : idnaruto.com

            “Tapi kayaknya aku masih bingung nih, minat dan bakat itu?”
            Oke saya punya cerita tentang minat dan bakat, pernah ada yang baca komik Naruto? Komik tersebut adalah komik yang menceritakan tentang kehidupan seorang ninja bodoh yang punya cita-cita tinggi untuk menjadi seorang hokage (Pemimpin, sama seperti Presiden.) Disini pencipta komik tersebut memunculkan dua tokoh yang paling dominan dalam alur ceritanya yakni si tokoh utamanya Naruto dan tokoh pendukungnya Sasuke, di komik itu diceritakan, Naruto adalah seorang ninja yang bodoh, tidak berbakat sama sekali, tetapi memiliki minat yang tinggi untuk menjadi seorang hokage. Sedangkan Sasuke adalah seorang keturunan Uchiha salah satu clan terbaik kedua dalam dunia ninja, yang jelas memiliki kecerdasan yang sangat menakjubkan. Dalam cerita tersebut si Naruto tidak pernah menyerah, walaupun bodoh, tidak berbakat. Minatnya kuat bahwa suatu saat nanti ia bisa menjadi seorang hokage, dari mulai belajar jurus-jurus yang sederhana sampai yang paling tersulit ia terus pelajari, hingga akhirnya usaha kerasnya membuahkan hasil. Kini Naruto menjadi sangat hebat, kuat dan berbakat. Karena ia terus berusaha keras belajar dan belajar. Berbeda dengan Sasuke yang memiliki darah keturunan seorang Uchiha secara alamiah Sasuke sangat cepat sekali belajar, dan ia memiliki kekuatan yang unik kekuatan mata Sharingan, lewat kekuatan itulah ia belajar dan melatih jurus-jurus ninjanya, dan akhirnya menjadi ninja yang sama hebatnya dengan Naruto.
            Dari cerita tersebut, bisa kita simpulkan. Bahwa beruntunglah mereka yang terlahir dengan bekal yang banyak untuk memunculkan bakatnya, tetapi tidak rugi juga kalau kita terlahir tanpa ada dukungan untuk mengasah bakat kita, toh dalam kenyataannya kita semua sama-sama masih bisa belajar. Dan bahkan dalam cerita si Naruto pun ia yang sama sekali tidak berbakat bisa menjadi berbakat. Lalu kenapa kita tidak, jelas kalau mau belajar dan belajar kita pasti akan bisa berbakat.




*Juliyanto
Previous
Next Post »
Recommended For You
×