.

Manusia Tanpa Dosa

Sumber : www(dot)tettytanoyo(dot)com

Hari itu aku sedang menunggu angkutan umum bersama Ayah dan Ibuku, ini adalah lebaran terindah menurutku, karena lebaran tahun ini aku akan pergi kerumah nenek dan menginap selama seminggu di sana. Sambil menunggu angkutan umum Ayahku mengambil sebutir permen dari kantung celana katunnya. Membuka bungkusnya lalu memakan isinya. Ayahku kembali menaruh cangkang permen itu dikantung celana katunnya. Aku tidak mengerti kenapa cangkang permennya tidak langsung dibuang, kok, malah disimpan di celana. Lalu aku yang kebingungan itu bertanya.
            “Yah, kok, cangkang permennya enggak dibuang?”
            “Enggak ada tempat sampah, Nak, jadi Ayah simpan dulu, nanti kalau ada tempat sampah Ayah buang ke sana.”
            Aku mengangguk, “O, gitu.”
Akhirnya angkutan umum itu pun datang juga. Aku, Ayah dan Ibu segera naik. Aku duduk di paling ujung seperti kebiasaanku, melihat apa yang terjadi di luar jalan memalui kaca transparan angkutan umum. Didalam angkutan umum ada seorang bapak-bapak yang sedang merokok. Sepertinya bapak-bapak ini keliatan galak, wajahnya sangar, kulitnya hitam legam, wajahnya mirip orang Afrika. Bapak-bapak ini sedang asyik merokok. Aku memperhatikannya dengan sangat serius, bapak-bapak ini menghisap dengan santainya seolah tidak ada penumpang didalam angkutan umum ini, sampai-sampai sisa puntung rokoknya berserakan didalam angkutan umum.

            Aku dan Ayahku yang memang sangat cuek dengan keadaan sekitar tidak begitu peduli, kami berdua merasa acuh saja, aku dengan aktivitas melihat jalan melalui kaca angkutan umum, dan Ayah yang asyik makan permen. Entah sudah berapa banyak cangkang permen yang sudah Ayah kantongi selama perjalanan ini. Beda hal nya dengan Ibu yang dari tadi terbatuk-batuk karena menghirup asap rokok. Mungkin karena tidak biasa dengan udara yang tidak segar mungkin ya.

www(dot)duajurai(dot)com

            Di jalan itu aku melihat, ternyata sepanjang jalan menuju rumah nenek, banyak sekali sampah, sempat aku berpikir. Apa pada enggak pernah sekolah? Kok, buang sampah di mana aja. Mungkin orang-orang di sini, sudah terbiasa dengan hal tersebut. Pikirku, sampai di depan mataku sendiri sekarang seorang bapak yang sangar dengan santainya merokok dan menyampah di angkutan umum.
            Dunia memang wajar dipenuhi orang yang tidak sehat pikirannya, karena terkadang kita juga sama tidak sehatnya dengan kebanyakan orang. Ingin hidup sehat tetapi buang sampah di mana saja. Ingin tidak macet di jalan tetapi keluar dari rumah tidak pernah pagi. Mengeluh dengan gaji sebulan tidak cukup. Padahal pengeluarannya per-bulan selalu dipakai belanja segala macam kebutuhan bahkan sampai yang tidak terlalu diperlukan pun ikut dibeli.
            Aneh memang kalau sudah mengomentari orang lain, seakan kita paling benar sendiri. Nyatanya kita pun sama saja seperti kebanyakan orang. Bukannya menjadi si minoritas orang baik. Malah ikut-ikutan menjadi mayoritas si orang buruk. Entah sampai kapan kita akan meneruskan generasi yang kurang bertumbuh baik ini. Ah, tapi untuk apa aku memikirkan semua itu, ini harusnya jadi hari yang baik saja. Lebaran ya lebaran saja. Kenapa malah memikirkan sifat manusia yang buruk itu, toh sebenarnya semua manusia pun bisa belajar sendiri. Bencana di mana-mana mungkin mereka juga nanti bakal sadar sendiri.


*Juliyanto
Previous
Next Post »
Recommended For You
×