Hari itu aku
sedang menunggu angkutan umum bersama Ayah dan Ibuku, ini adalah lebaran
terindah menurutku, karena lebaran tahun ini aku akan pergi kerumah nenek dan
menginap selama seminggu di sana. Sambil menunggu angkutan umum Ayahku
mengambil sebutir permen dari kantung celana katunnya. Membuka bungkusnya lalu
memakan isinya. Ayahku kembali menaruh cangkang permen itu dikantung celana
katunnya. Aku tidak mengerti kenapa cangkang permennya tidak langsung dibuang,
kok, malah disimpan di celana. Lalu aku yang kebingungan itu bertanya.
“Yah, kok, cangkang permennya enggak
dibuang?”
“Enggak ada tempat sampah, Nak, jadi
Ayah simpan dulu, nanti kalau ada tempat sampah Ayah buang ke sana.”
Aku mengangguk, “O, gitu.”
Akhirnya
angkutan umum itu pun datang juga. Aku, Ayah dan Ibu segera naik. Aku duduk di
paling ujung seperti kebiasaanku, melihat apa yang terjadi di luar jalan
memalui kaca transparan angkutan
umum. Didalam angkutan umum ada seorang bapak-bapak yang sedang merokok.
Sepertinya bapak-bapak ini keliatan galak, wajahnya sangar, kulitnya hitam
legam, wajahnya mirip orang Afrika.
Bapak-bapak ini sedang asyik merokok. Aku memperhatikannya dengan sangat
serius, bapak-bapak ini menghisap dengan santainya seolah tidak ada penumpang
didalam angkutan umum ini, sampai-sampai sisa puntung rokoknya berserakan
didalam angkutan umum.
Aku dan Ayahku yang memang sangat
cuek dengan keadaan sekitar tidak begitu peduli, kami berdua merasa acuh saja,
aku dengan aktivitas melihat jalan melalui kaca angkutan umum, dan Ayah yang
asyik makan permen. Entah sudah berapa banyak cangkang permen yang sudah Ayah
kantongi selama perjalanan ini. Beda hal nya dengan Ibu yang dari tadi
terbatuk-batuk karena menghirup asap rokok. Mungkin karena tidak biasa dengan
udara yang tidak segar mungkin ya.
www(dot)duajurai(dot)com
Di jalan itu aku melihat, ternyata
sepanjang jalan menuju rumah nenek, banyak sekali sampah, sempat aku berpikir.
Apa pada enggak pernah sekolah? Kok, buang sampah di mana aja. Mungkin
orang-orang di sini, sudah terbiasa dengan hal tersebut. Pikirku, sampai di
depan mataku sendiri sekarang seorang bapak yang sangar dengan santainya
merokok dan menyampah di angkutan umum.
Dunia memang wajar dipenuhi orang
yang tidak sehat pikirannya, karena terkadang kita juga sama tidak sehatnya
dengan kebanyakan orang. Ingin hidup sehat tetapi buang sampah di mana saja.
Ingin tidak macet di jalan tetapi keluar dari rumah tidak pernah pagi. Mengeluh
dengan gaji sebulan tidak cukup. Padahal pengeluarannya per-bulan selalu
dipakai belanja segala macam kebutuhan bahkan sampai yang tidak terlalu
diperlukan pun ikut dibeli.
Aneh memang kalau sudah mengomentari
orang lain, seakan kita paling benar sendiri. Nyatanya kita pun sama saja
seperti kebanyakan orang. Bukannya menjadi si minoritas orang baik. Malah
ikut-ikutan menjadi mayoritas si orang buruk. Entah sampai kapan kita akan meneruskan
generasi yang kurang bertumbuh baik ini. Ah, tapi untuk apa aku memikirkan
semua itu, ini harusnya jadi hari yang baik saja. Lebaran ya lebaran saja.
Kenapa malah memikirkan sifat manusia yang buruk itu, toh sebenarnya semua
manusia pun bisa belajar sendiri. Bencana di mana-mana mungkin mereka juga
nanti bakal sadar sendiri.
*Juliyanto
tettytanoyo(dot)com.jpg)
duajurai(dot)com.jpg)