Sedikit Demi Sedikit Lama-lama Menjadi Bukit
Pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit adalah pepatah yang memiliki berjuta makna. Jika mengumpulkan satu sen demi satu sen, maka pada saatnya kita akan mendapatkan satu pundi. Tidak bisa terbantahkan pula jika waktu yang kita jalani adalah gabungan dari bagian-bagian waktu terkecil. Detik demi detik menjadi menit. Menit demi menit menjadi jam. Jam demi jam akan menjadi hari. Hari demi hari yang nantinya menjadi pekan. Pekan demi pekan yang berubah menjadi bulan. Bulan demi bulan yang akhirnya menjadi rangkaian tahun-tahun.
Namun pepatah ini sesungguhnya bukan hanya sekedar berbicara hidup hemat, ketekunan menabung atau rangkaian waktu. Pepatah ini menyiratkan tentang sesuatu yang lebih berharga sekedar sekantong keping uang coy. Si pepatah berbisik bahwa apabila kita mampu mengumpulkan kebaikkan dalam tiap tindakan-tindakan kecil, maka kita akan menemui kebesaran dalam jiwa kita.
Kebaikkan ini juga ga cuma bicara soal berbuat baik agar orang lain melihat. Melainkan juga merupakan itikad baik untuk ikhlas dan tulus dalam beribadah kepada sang Khalik. Begitupun buat kamu-kamu yang masih belajar di sekolahan atau kuliahan. Anggap belajar itu adalah bagian-bagian kebaikan kecil yang apabila dikumpulkan maka akan menjadi kebaikkan besar nantinya.
Kebahagiaan anda tumbuh berkembang manakala anda membantu orang lain. Namun, bilamana anda tidak mencoba membantu sesama, kebahagiaan akan layu dan mengering. Kebahagiaan bagaikan sebuah tanaman, harus disirami setiap hari dengan sikap dan tindakan memberi. (J. Donald Walters)
*Baca juga: Cara menyikapi kekasih yang tidak peka
*Baca juga: Cara menyikapi kekasih yang tidak peka
Akan sangat terasa berat apabila kamu-kamu disuruh memindahkan sekarung beras dengan berat sekuintal. Beuuuuh... beratnya, ampuuuuuun dah, bisa bikin encok!! Hehe.. Tapi akan berbeda hasilnya kalo berasnya dibagi jadi sepuluh bagian. Tentu akan terasa lebih ringan, walau membutuhkan waktu berkali-kali untuk memindahkannya. Ya kan??
Bahkan seorang juara sejati tinju dunia kelas berat sekaliber Mike Tyson pun ga bisa menang hanya dengan sekali pukul lawannya. Dia harus mengikuti jalan alam bahwa kemenangan hanya bisa diraih dengan menyarangkan satu pukulan demi satu pukulan ke wajah lawan tanding. Hingga ketika pada puncak klimaks kelelahan, lawannya yang udah oleng akan jatuh TKO dengan sekali saja pukulan telak.
Kamu-kamu pingin jadi orang pinter super sukses?? Hiii... ga mau ah jadi dukun mah, hehe.. opps.. maksudnya jadi orang super cerdas gituu loooh.. jawabannya ga ada selain kamu kudu belajar sedikit demi sedikit. Mulai dari sekolah dasar sampe sekolah tingkat atas yang bisa bikin kamu lebih elit otaknya. Ga ada tuh ceritanya orang yang tiba-tiba mendadak jenius kecuali dia kudu belajar. Cuma ada di dunia dongeng aja kali ya orang yang dilahirkan langsung pinter. Hehe..
Bayi aja tingkatan makannya bertingkat lho. Mulai dari ASI, makanan-makanan lembek seperti bubur dan sejenisnya, baru deh kalo udah agak gede bisa dikasih nasi. Kalo bayi langsung dikasih semur jengkol, bisa-bisa pendek tuh umur si bayi karena jengkolan dan tubuhnya ga kuat tuh fren. Sedikit demi sedikit, setahap demi setahap dan selangkah demi selangkah.
*Baca juga: Menjadi lelaki idaman wanita
*Baca juga: Menjadi lelaki idaman wanita
Wheeyy coy, pernahkah kamu mencoba memindahkan sebuah bukit?? Pasti belum ya, sama dong, hehe.. Mungkin kita perlu belajar banyak dari pak tani tua dari Cina yang berhasil memindahkan bukit agar bisa dipakai jalan anak-anaknya. Setiap hari dia akan memindahkan dua keranjang pasir yang diambil dari sebuah bukit. Kemudian dipindahkan pasir itu ke tanah kosong. Dia melakukan itu tiap hari sejak usianya masih muda.
Seorang yang berjiwa pejuang sekaligus pemenang selalu menyadari bahwa cita-cita yang tinggi bukanlah sebuah kemustahilan. Karena tidak ada yang mustahil di dunia kecuali kata mustahil itu sendiri. Semuanya dengan izin sang Khalik tentu bisa dicapai bila sedikit demi sedikit meraihnya. Jadi pertanyaan buat kamu-kamu semua yang masih muda-muda, “Bukit” mana yang perlu kamu pindahkan??
Kisah: Lelaki tua yang memindahkan bukit
Ada seorang laki-laki tua yang setiap harinya harus melewati bukit tempat kerjanya. Sesaat dia berfikir jika saja bukit ini bisa dipindahkan, tentu perjalanannya tidak akan sejauh dan melelahkan seperti sekarang. dalam perjalanannya, dia mengambil beberapa kerikil dari satu bukit untuk dibawa ke lereng bukit lain dan dia akan membuangnya.
Lelaki itu tidak pernah melupakan ritual rutinnya setiap hari. Orang-orang yang lewat merasa keheranan melihatnya, dan suatu hari mereka bertanya apa yang dilakukannya. Laki-laki tersebut menjelaskan bahwa dalam perjalanannya bekerja tiap hari, dia mengambil kerikil-kerikil dari bukit untuk dipindahkan ke lereng yang lain sehingga pada akhirnya bukit tersebut jadi rata.
Setelah mendengar cerita, orang-orang itu menertawakannya dan berkata, “Mustahil kamu dalam seumur hidup sekalipun bisa meratakan bukit tersebut.”
Kemudian laki-laki itu menjawab, “Aku tahu sepanjang hidupku tidak mungkin bisa meratakan bukit tersebut, tapi jika di antara kalian mengetahui tujuanku melakukan semua ini, maka bukit ini tentunya akan rata pada masa yang akan datang.”
*Baca juga: Manusia tanpa dosa
*Baca juga: Manusia tanpa dosa
Hikmah di balik kisah:
Keputusan dan tindakan yang kita ambil hari ini belum tentu akan terwujud esok hari atau bahkan sepanjang hidup kita. Tapi ini akan menjadi pengaruh kuat bagi generasi muda di masa depan kita. Justru hal positif yang dilakukan sekarang, akan menjadi benih dan akan tumbuh menjadi pohon besar dan tinggi di masa yang akan datang.
Sangat penting bagi kita untuk menyadari pentingnya unsur lain yang memberikan efek bagi kita juga bagi orang lain. Kita tidak bisa hidup dengan menghadapi masalah, jika masalah tersebut tidak mampu kita selesaikan. Tidak terselesaikannya masalah secara lambat laun akan memberikan dampak kurang baik bagi generasi penerus. Mereka akan mendapatkan tanggung jawab yang seharusnya kita pikul.
Tindakan-tindakan kecil namun berkelanjutan akan mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya. Berikanlah kasih sayang, perhatian, tanggung jawab bagi para generasi penerus. Berikanlah sesuatu yang berbeda untuk dunia. Karena bisa jadi yang beda itulah yang nantinya akan merubah dunia menjadi jauh lebih baik.
Ucapan terima kasih, sesungguhnya senyuman, sapaan ramah, atau pelukan penuh persahabatan. Tindakan yang mungkin bisa dianggap sepele. Namun apabila diliputi rasa kasih sayang, ia akan jadi jauh lebih tinggi dari bukit-bukit yang kamu pindahkan. Karena itulah bukit yang sebenar-benarnya.
Komitmen Diri Untuk melangkah:
Mulai sekarang saya akan memindahkan “bukit-bukit saya” untuk generasi masa depan. Kesuksesan berarti juga kepedulian terhadap kelangsungan dan perbaikan planet ini. Sudah saatnya saya harus segera menanam benih-benih kasih sayang dan kepedulian antar sesama umat manusia. Inilah obat termanjur untuk menyembuhkan penyakit-penyakit masyarakat yang ada di muka bumi.
Kesuksesan seorang pejuang juga meliputi dimensi sosial kemasyarakatan. Justru ini sesungguhnya hakikat hidup semua manusia di dunia. Ya, hakikat saya sebagai insan yang hidup untuk saling peduli dan tolong menolong. Tolong menolong dan peduli ini juga merupakan salah satu bagian akar yang kuat untuk pohon kehidupan.
Orang yang mampu menolong yang kurang beruntung. Namun yang kurang mampu akan termotivasi dan terdorong untuk segera bangkit dari keterpurukan. Saya ingin memulainya dari sekarang. Hingga akhirnya, sedikit demi sedikit saya akan layak mendapatkan kesuksesan. Karena saya telah mempersiapkan masa depan yang cerah dan lebih baik untuk generasi penerus saya.
Sumber: Purnadina (2010). Menjadi Pembelajar Sejati. Yogyakarta: Penerbit Leutika.
