.

Sukses Namun Tidak Bahagia

Sukses Namun Tidak Bahagia


Dan mereka berkata:
“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja,
kita mati dan kita hidup
dan tak ada yang membinasakan kita selain masa”,
dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu,
mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

QS Al-jaatsiyah (Yang Berlutut) 45:24
\
            Ini adalah hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Daniel Goleman dalam bukunya “Working with Emotional Intelligence”. Dalam bukunya itu, Daniel Goleman bertutur sebuah kisah realita, ceritanya begini: Di Amerika Serikat ada seorang managing partner, biro hukum yang sangat sukses dan sangat kaya. Namun begitu usianya mencapai 50 tahun, ia merasa sesuatu telah menggerogoti hidupnya. Ia memandang dirinya sebagai budak waktu, bekerja hanyalah untuk memenuhi tuntutan para mitra serta kliennya. Keberhasilan baginya adalah sebuah “penjara”.
            Shoshana Zuboff seorang psikolog dan pengajar di Harvard Business School menangkap kesadaran dan kebutuhan ini, dan mendirikan sebuah program refleksi diri yang ia namakan “ODYSSEY”. Orang-orang yang berpartisipasi dalam program ini rata-rata adalah orang yang sangat sukses yang telah berhasil meraih sasaran yang mereka tetapkan sendiri pada usia dua-puluhan sampai tiga-puluhan. Namun ketika mereka memandang ke depan, merasa kekeringan.
           
            Salah seorang pengusaha yang sangat sukses akhirnya mendapatkan dirinya menggeluti bidang yang sangat dibencinya, “Perusahaan ini telah sampai taraf memperbudak saya. Saya merasa terjebak, saya tidak menyukai apa yang kini saya kerjakan. Saya lebih suka mengutak-ngatik mesin perahu saya atau apa saja, asalkan bukan pekerjaan saya ini.” Menurut Michael Banks, seorang executive coach (trainer bagi para eksekutif)  untuk KRW internasional yang berkantor di Minneapolis Minnesota, New York mengatakan, begitu usia mereka mendekati lima puluh tahun, mereka baru merasakan adanya tanda-tanda yang salah pada diri mereka, “Ada kepingan yang hilang dari dalam diri kami.” Mereka tidak bahagia dengan kesuksesannya.
            Banyak lagi orang yang merasa sudah mencapai cita-cita atau mencapai puncak kesuksesan baik bagi karier maupun materi, tetapi merasakan sesuatu yang “hampa dan kosong”. Umumnya, mereka baru menyadari bahwa mereka telah menaiki tangga yang salah, justru setelah mencapai puncak tertinggi anak tangga kariernya. Ternyata pada akhirnya, uang, harta, kehormatan, dan kedudukan bukanlah “sesuatu” yang mereka cari selama ini.

            Orang-orang sukses tadi jelas orang yang sangat bermanfaat secara sosial dan ekonomi bagi perusahaannya, tetapi kehilangan makna spiritual dalam dirinya sendiri. Penyakit seperti ini banyak diderita oleh orang- orang modern, yang sering dinamakan spiritual patology atau spiritual ilness. Lihatlah beberapa contoh peristiwa yang belum lama ini terjadi, seperti presiden direktur Hyundai yang meninggal secara mengenaskan, ia mati bunuh diri dengan meloncat dari gedung pencakar langit yang tinggi. Juga seorang top eksekutif  Indonesia, yang mati bunuh diri dengan terjun bebas dari sebuah apartemen di Jakarta berlantai 56.

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku
maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit,
dan Kami akan mengumpulkannya
pada hari kiamat dalam keadaan buta.
QS  Thaahaa 20:124

             Apabila diibaratkan dengan tatanan galaksi, maka manusia seperti ini dapat diibaratkan sebagai salah satu benda langit (bisa planet, asteroid atau benda angkasa lainnya.) yang telah memiliki garis edar, namun tidak mengetahui “pusat orbit” yang dikitarinya. Mereka bergerak pada garis edar dengan baik dan benar (in line) tetapi tidak tahu benda apakah gerangan acapkali dikelilinginya. Mereka frustasi tak tahu apa yang sebenarnya mereka cari.
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan
hawa nafsunya sebagai tuhannya,
dan Allah membiarkannya sesat sesuai dengan ilmu-Nya
dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya
dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?
Maka siapakah lagi yang akan  memberikan petunjuk
Sesudah Allah (membiarkan sesat).
Maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran?

QS Al-Jaatsiyah (Yang Berlutut) 45:23
            Penjelasan ini bukan berarti bahwa yang benar itu adalah menjadi seorang “pertapa spiritual”, yang hanya duduk diam merenung serta menikmati indahnya spiritualitas. Manusia seperti ini kurang cocok apabila hidup di dunia modern yang penuh tantangan, karena seringkali tipikal manusia seperti ini lari dari tanggungjawab. Sebaliknya, jenis manusia seperti ini dapat dikategorikan sebagai “bermakna tetapi tidak atau kurang bermanfaat.” Ia sudah mengetahui pusat orbitnya tetapi tidak mengetahui garis edarnya, artinya sudah memiliki spiritualitas tinggi tetapi tidak memiliki kinerja yang baik.

            Yang diharapkan  sebenarnya, adalah seseorang yang memiliki pusat orbit dan mengerti secara jelas mengapa ia mengorbit dan bergerak pada garis edar. Artinya, ia memiliki pusat orbit yang benar yaitu nilai-nilai spiritual, memahami secara jelas siapa sang pemilik nilai-nilai spiritual tadi, pun aktif bergerak dan berkarya dengan kinerja yang optimal pada garis edar, namun tetap memegang teguh inner values atau nilai-nilai mulia, the originally innocent thing yang dikitarinya. Dialah Insan Kamil, yang mendorong atau “mengarah ke dalam batin” (sentripetal), menempatkan hati sebagai pusat orbit, dan amal saleh sebagai garis edar aplikasi (sentrifugal). Pusat orbit yang berada di tengah adalah sebuah nilai spiritual dan sumber energi, apabila dikiaskan, ia menjadi energi penggerak bagi seluruh planet-planet yang beredar mengelilinginya. Namun banyak di antara planet dan benda-benda angkasa tersebut tidak mengetahui mengapa ia terus-menerus berputar mengelilinginya. Ia  hanya berputar-putar sepanjang waktu tanpa mengenal apakah sebenarnya pusat orbitnya itu dan mengapa ia harus melakukan aktivitas tersebut. Ia hanya memiliki keyakinan untuk berkeliling, namun tidak mengetahui apa makna aktivitas yang dilakukannya. Kiasan tersebut menggambarkan seorang manusia yang tidak mengetahui tujuan hidupnya secara jelas, mengapa ia harus terus bekerja sepanjang tahun secara terus menerus. Ia pun tidak mengetahui apa pusat orbit yang ia kelilingi sepanjang hidupnya. Ia tidak tahu siapa dirinya? Ia tidak tahu di mana dirinya? Ia tidak tahu untuk apa ia hidup? Bahkan ia tidak tahu ke mana ia akan pergi nanti?
            Artinya, ada dua hal utama yang harus mampu kita cari jawabannya. Yang pertama, apakah sebenarnya pusat orbit kita? Dan yang kedua, di manakah lintasan orbit kita? Karena pusat orbit adalah sebuah inner value yang ada dalam diri kita, yang juga ada pada alam semesta raya, maka kita harus mampu membaca dan mengetahui apa sebenarnya inner value kita, sekaligus mampu membaca pusat orbit dan garis edar spiritual alam semesta. Dan ketika kedua hal tersebut berhasil kita lakukan, pada akhirnya kita akan mampu menempatkan diri kita sesuai dengan kaidah hukum alam. Kaidah ini saya namakan Spiritual Based Organization (SBO). Telah banyak terbukti bahwa perusahaan atau profesional yang tidak sesuai dengan etika alam senantiasa berakhir secara menyedihkan, sebaliknya yang mengikuti kehendak alam senantiasa berjaya dalam jangka waktu yang panjang.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperitahkan Allah dengan
 memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam
(menjalankan) agama.”

QS Az-Zumar (Rombongan) 39:11


Sumber: Agustian, Ginanjar, Ary. Tahun 2003. “ESQ POWER”. Jakarta: Penerbit Arga
Previous
Next Post »
Recommended For You
×