Cinta dan Perkawinan
Sumber : 3(dot)bp(dot)blogspot(dot)com
Satu hari, Plato
bertanya pada gurunya, “Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?”
Gurunya
menjawab, “Ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah kamu dan
tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu
menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah
menemukan cinta.” Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali
dengan tangan kosong, tanpa membawa apa pun.
Gurunya
bertanya, “Mengapa kamu tidak membawa satu pun ranting?”
Plato menjawab, “Aku
hanya boleh membawa satu, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik).
Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu
apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting
tersebut. Saat aku melanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya
ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak
kuambil sebatang pun pada akhirnya.”
Gurunya kemudian
menjawab, “Jadi ya itulah cinta.”
Di hari yang
lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, “Apa itu perkawinan? Bagaimana saya
bisa menemukannya?”
Gurunya pun
menjawab, “Ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur
kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Tebanglah jika
kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan
apa itu perkawinan.”
Plato pun
berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut
bukanlah pohon yang segar/subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu
biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, “Mengapa kamu memotong pohon yang seperti
itu?”
Plato pun
menjawab, “Sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir
setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi di kesempatan
ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan
untuk menebangnya dan membawanya ke sini. Aku tidak mau menghilangkan
kesempatan untuk mendapatkannya.”
Gurunya kemudian
menjawab, “Itulah perkawinan.”
Sumber: Anwar, Zainul (2012). A-Z Psikologi “Berbagai Kumpulan Topik Psikologi”. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
