Cara mengajar terbaik
Sumber : files(dot)wordpress(dot)com
Hiduplah seorang
guru yang bijaksana, guru tersebut memiliki beberapa murid. Salah satu di
antara muridnya ada yang gagu. Suatu hari sang guru menyuruh muridnya yang gagu
untuk turun gunung. Sang guru berkata, “Besok, turun gununglah dan sebarkan
ajaran kebenaran yang telah kukabarkan kepada semua orang.”
Muridnya yang
gagu itu merasa rendah diri dan segera menulis di atas kertas, “Maafkan saya
Guru, bagaimana mungkin saya dapat menyebarkan ajaran Guru, saya ini kan gagu.
Mengapa Guru tidak menyuruh murid lain saja yang tentu mampu menyebarkan ajaran
Guru dengan lebih baik?”
Sang Guru
tersenyum dan meminta muridnya merasakan sebiji anggur yang diberikan olehnya.
“Anggur ini manis sekali,” tulis muridnya.
Sang Guru
kembali memberikan sebiji anggur yang lain. “Anggur ini masam sekali,” tulis
muridnya.
Kemudian Gurunya
melakukan hal yang sama pada seekor burung beo. Biarpun diberi anggur yang
manis maupun masam beo itu tetap saja mengoceh, “Masam... masam...”
Sang Guru menjelaskan
pada muridnya, “Kebenaran bukanlah untuk dihafal, bukan pula cuma untuk dipelajari,
tapi yang terutama adalah untuk dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Cacat
tubuh yang kita miliki janganlah menjadi rintangan dalam mengembangkan batin
kita. Kita jangan seperti sebuah sendok yang penuh dengan madu, tapi tidak
pernah mengetahui manis madu itu. Kita jangan seperti beo yang pintar mengoceh
tapi tidak mengerti apa yang diocehkannya. Engkau memang tidak mampu berbicara
dengan baik, tapi bukankah engkau bisa menyebarkan kebenaran dengan cara-cara
lain, misalnya menulis buku? Dan yang lebih penting, bukankah perilaku kamu
yang sesuai dengan kebenaran akan menjadi panutan bagi yang lain?”
Baca juga: Cerita Motivasi: Kearifan Jagung
Sumber: Anwar, Zainul (2012). A-Z Psikologi “Berbagai Kumpulan Topik Psikologi”. Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
