.

Membaca Buku BOS (Biografi Orang Sukses)

Membaca Buku BOS (Biografi Orang Sukses)

Sumber : sites(dot)google(dot)com

Kutipan: “Bacalah buku nonfiksi seperti membaca buku resep. Jika Anda ingin memasak rendang, jangan membaca semua halaman buku 1001 resep masakan minang.” ~Anonim.

Sejak kecil kita sudah belajar bermimpi menjadi apa kelak setelah dewasa.  Menjadi dokter, insinyur, guru, presiden, artis, pemain sepakbola, menteri, jenderal, dan banyak profesi serta jabatan lainnya. Tetapi, sering kali mimpi itu tidak diikuti oleh gambaran siapa yang telah berhasil sebagai tokoh panutan. Aku ingin jadi ilmuwan seperti Einstein. Aku ingin menjadi profesor seperti Habibie. Aku ingin menjadi jenderal seperti Soedirman. Aku ingin menjadi pesepakbola seperti Zinedine Zidan. Aku ingin menjadi presiden seperti Nelson Mandela, dan seterusnya. Adanya sosok panutan sangat membantu seseorang mengidentifikasi diri yang positif dan fokus terhadap cita-citanya sehingga memudahkan dalam proses duplikasi.

            Bagaimana agar kita mengenal siapa mereka itu? Salah satu cara cerdas adalah melalui buku bacaan biografi. Anak-anak harus sejak dini mengenal tokoh teladan, baik bangsa kita sendiri maupun bangsa asing, dari buku-buku biografi atau auto-biografi. Mungkin juga orang-orang yang pantas menjadi teladan dari kalangan masyarakat biasa karena pengabdiannya yang luar biasa. Tugas orang tua dan guru untuk mengenalkan kepada anak-anak, siapa dan bagaimana seseorang patut menjadi teladan dalam kehidupan. Caranya dengan membacakan buku biografi atau membimbing mereka membaca bukunya secara langsung.

            Biografi adalah salah satu hasil dari pengakomodasian kehidupan seorang tokoh, mulai dari kepribadian,karier, karya, hingga seluk beluk keluarganya. M. Nursam dalam buku Pergumulan Seorang Intelektual Soedjatmoko, mengatakan bahwa dalam biografi, sesungguhnya terdapat unsur sejarah yang paling akrab. Biografi tidak hanya pemahaman tentang seseorang secara lebih persona dan mendalam, tetapi juga sosok pribadi yang dikaji dan ditempatkan sebagai pelaku sejarah yang secara langsung mempersepsi, menjalani, merasakan kekecewaan atau kebahagiaan terhadap kehidupan.

            Pada umumnya, buku-buku biografi terdiri dari lebih seratus halaman dilengkapi dengan foto atau ilustrasi lainnya. hal ini sering membuat calon pembaca agak malas untuk menyentuhnya, apalagi membacanya secara serius. Para penerbit buku biografi menyiasatinya dengan berbagai cara. Diantaranya menerbitkan dalam beberapa seri dengan jumlah halaman kurang dari 50 halaman, dan menerbitkannya dala, bentuk komik biografi, yang cukup menarik minat bagi anak remaja dan generasi muda. Cara ini sudah berkembang pesat, seiring dengan tuntutan para konsumen agar sesuatu yang bernilai itu tetap menyenangkan.

            Salah satu cara cerdas lainnya, yaitu dengan menyusun mini biografi serta peta hidup tokoh tersebut. Cara ini ditempuh oleh Dr. Marwah Daud Ibrahim, dengan mengambil tokoh-tokoh, yaitu Margareth Thatcher, Bunda Theresia, BJ Habibie, dan M. Aksa Mahmud, dalam buku untuk Pelatihan Mengelola Hidup Merencanakan Masa Depan yang dipimpinnya.

            Membicarakan orang-orang sukses dan tokoh-tokoh dunia sangatlah terpuji daripada menggosipkan teman-teman, orang lain karena perilaku mereka yang tidak terpuji. Coba kalau yang dibicarakan misalnya, siapa itu Margareth Thatcher? Siapa itu BJ Habibie? Siapa itu Rudi Hartono? Siapa itu Zidane? Siapakah Ayatullah Khomeini itu? Bagaimana kehidupan mereka di kala kecil hingga sukses dalam hidupnya?

Sumber : 4(dot)bp(dot)blogspot(dot)com
            Setelah membaca biografi orang sukses, sebaiknya kita menyusun sebuah esai tentang tokoh tersebut dengan memperluasnya berdasarkan bahan-bahan bacaaan lainnya. tulisan kita tentang bacaan biografi disebut sebut saja sebagai esai peta hidup tokoh.

Sumber : Buku “Quick Reading Melejitkan DNA Membaca”


Previous
Next Post »
Recommended For You
×