Keluhan Kita
Sumber : eramuslim(dot)com
Kita
mungkin bisa berjalan mundur, tapi waktu enggak. Kita adalah makhluk hidup tapi
waktu bukan. Kita berbeda dengan waktu, waktu akan terus menulis cerita, dari
mulai cerita manusia pertama hingga manusia modern. Dari mulai yang kuno sampai
yang canggih. Ya begitulah, nyatanya kita adalah seorang yang hidup di dalam
aliran waktu.
Aliran waktu kali ini adalah aliran yang menulis
cerita manusia modern, ia adalah si canggih yang selalu sibuk dengan gadgetnya.
Kalau tidak salah. Tetapi, ya begitulah. Kita meniru budaya orang lain tetapi
takut budaya kita dicuri. Tenang saja budaya kita adalah budaya malas. Kalau
dicuri pun tidak akan rugi, biarlah. Malah kita yang dari dulu ingin
berubahkan?
Kenapa kita belum menyadari bahwa kita ini memiliki
budaya malas, ya sebenarnya bukannya tidak kita sadari, hanya saja memang lebih
dominan yang tidak sadarnya padahal yang sadar sudah ada. Di negeri kita
korupsi udah biasa, buktinya lembar jawaban enggak pernah bersih dari noda
kebohongan? Kita selalu ragu kalau belum nanya jawaban yang kita tidak tahu.
Padahal di dunia kerja nanti, kejujuran itu penting, tapi kita di sekolah takut
ulangan kita jelek nilainya, makanya kita nyontek. Padahal itulah awal mulanya
kita mencintai korupsi dan itu budaya malas kita.
Dulu kita juga korban dari yang namanya budaya
malas, dulu kita juga pernah nyontek. Ya untungnya kita perlahan sadar.
Akhirnya kita masuk ke dalam kehidupan yang sulit. Di dunia kerja kita ketemu
dengan yang namanya atasan. Dan saat itu kita yang jadi bawahannya. Atasan
selalu enggak mau tahu, mereka selalu memaksa kita untuk menghasilkan sesuatu,
dan selalu saja yang dimintanya itu hasil yang sempurna. Karena dulu kita
adalah produk budaya malas, apa yang kita hasilkan tidaklah sempurna malah bisa
dikatakan “Bad Quality.” Dari situ kita jadi belajar kita perbaiki terus apa
yang kita kerjakan, karena takut dimarahi atasan. Takut dipecat juga.
Dari sana kita jadi mau belajar, motivasi kita mau
belajar hanya sekedar jangan sampai dimarahi atasan dan jangan sampai dipecat.
Ya gitu, kita akhirnya bisa, karena terus belajar dari kesalahan. Akhirnya kita memaknai sesuatu dari pekerjaan kita
sekarang, dan saat itu juga enggak sengaja pikiran kita melambung ke masa waktu
kita sekolah dulu, masa di mana waktu itu kita sering bersaing buat dapet nilai
sempurna di semua mata pelajaran. Kita akhirnya mikir gini, “Ternyata aku
enggak sebodoh itu ya, pekerjaan apapun ternyata bisa dipelajari, kenapa waktu
sekolah, aku nyontek melulu. Kenapa aku enggak serajin ini belajar, bukannya
ilmu yang dicari tapi malah nilai.”
Ternyata kita akhirnya sadar juga, walau ada juga
yang masih enggak sadar-sadar. Memang itulah ujian hidup, ada yang jadi sadar
setelah diuji ada juga yang makin rusak hidupnya. Sebenarnya sih semua orang
bisa sadar, cuma itulah ujian enggak semua orang bakal lulus. Sekarang kita
belajar lagi, ternyata nilai kita sebesar apapun di sekolah dulu, enggak
menjamin masa depan kita. Kadang kita juga iri sama teman yang lebih sukses
dari kita padahal di sekolah dulunya biasa-biasa aja bahkan ada semacam ego,
yang melabeli diri kita.
“Kok, aneh ya, dia dulunya lebih bodoh dari aku, kok
nasibnya lebih baik dari aku.”
Ya, namanya juga hidup terus kita mikirnya negatif
“Dia beruntung karena banyak relasi. Kalau aku pintar tapi relasi dikit, nasib
aku buruk banget.”
Ya itulah manusia sepintar apapun kalau sudah rusak
mentalnya negatif melulu pikirannya.
Tetapi akhirnya sekarang kita bangkit nih, kita
akhirnya menyukai belajar. Kadang kita rindu mau sekolah lagi. Andaisaja, waktu
bisa mundur. Terus kita jadi anak-anak lagi dengan ingatan yang sekarang,
mungkin bakal jadi jenius semua orang-orang di negeri ini. Enggak bakal ada
orang miskin, enggak bakal ada yang ngeluh berapapun harga bbm, harga beras.
Kan kita semua orang jenius, pasti kaya raya beli apapun bisa.
Ya ini cuma keluhan kita aja sih, kadang kita mikir
gitu. Setelah semuanya terjadi kita cuma bisa ambil hikmahnya aja, padahal
banyak orang hebat juga yang suksesnya berawal dari kegagalan, mereka enggak
cuma ambil hikmahnya aja, mereka bangkit, memulai semuanya dari nol, belajar
lagi dari nol. Mereka mikirnya belum terlambat, masih mungkin dan akhirnya
siapa yang menyangka dulunya bodoh jadi jenius, dulunya miskin jadi kaya raya.
Semuanya masih mungkin kok, asal mau berusaha aja. Itu semua dimulai dari satu
kalimat sederhana. “Mulailah belajar kembali.”
*Juliyanto
com.jpg)